Sunday, November 16, 2008

Ada yang Pernah Cium Ketek Presenter Terkenal? Gue Pernah!

cewek-senamDen, gw mau sharing nih. Udah lama gw ga berbagi kisah pada temen-temen pendemen ketiak wanita cantik. Masih tentang presenter wanita di salah satu stasiun TV berita pertama di republik ini. Kenapa gw selalu bercerita soal presenter wanita cantik itu? Karena gw masih ada hubungan saudara dengannya. Dia adiknya kakak ipar gw. Initial PL, tapi gw panggil Ita. Ini fakta lho! Kami tinggal satu rumah, maklum gw kan masih nganggur dan tinggal nunggu wawancara kerja. Tapi cerita ini bukan tentang dia aja, temen kerjanya juga.
Sabtu pagi, Ita ngajak gw ke salah satu tempat fitness terkenal di Tangerang. Sebetulnya gw males sih, tapi lihat dia pakai pakaian senam begitu jadi horny juga. Dia juga bilang ajak temen wanitanya yang lain, namanya AE (Ita tau gw naksir berat ama AE). Tapi gw sadar diri, Den, otak gw pas-pasan, dompet melompong. Pokoknya serba minus deh!

Gw setuju anter mereka ke gym. Berangkat dong. Terus, lagi asyik nyetir mobil tiba-tiba nih cewek membuka tasnya. "Aduhh, Frans, aku lupa bawa deodoran!" serunya.

Gw menoleh. "Buat apa deodoran?" tanya gw bloon. "Emang ketimu smell kalo ga pake gituan?"

"Ya enggak lah!" jawabnya sambil mengangkat kedua lengannya. Eh, dia pake nyiumin keteknya segala. Tak pelak, ketiak yang putih, padat, gemuk dan bertumbuhan beberapa helai rambut tipis-pendek itu sukses bikin “adik” gw jadi kelojotan.

"Sini, biar aku,” gagas gw. “Kalo yang punya yang cium jelas ga obyektif."

"Ihh... enak aja!” semprotnya sewot, sambil menurunkan lengan kembali. Ah, sialan! Kirain langsung mau kayak korban hipnotis.

Kami diam-diaman beberapa saat. Kemudian gw memecah keheningan itu, “Ta, kenapa sih kamu ga bersihin ketimu dari bulu-bulu itu. Ntar bau lho.”

“Ga sempet aja, Frans. Kamu kan tau kalo wartawan kerja gimana, gak sempet urus diri.”

“Wah, jangan-jangan kalian wartawan wanita banyak bulu di ketiaknya...”

“Emang!!” sahutnya, tergeli-geli sendiri. “Makanya kalau mau syuting, liat acaranya: Baca berita atau untuk mandu acara wisata. Kalau acara wisata dan temanya di pantai, kami terutama yang cewek, biasanya pada bersih diri dulu. Karena biasanya busananya you-can-see. Malu kan kalo keliatan gondrong.”

Percakapan terus bergulir. Tak terasa sampailah kami di rumah AE. Gw lihat AE keluar dengan baju senamnya yang dibungkus jaket. Dia senyum pada Ita dan gw. Duh, manisnya...

Singkat cerita, kami sampai di gym langganan mereka. Mereka turun dan masuk. Sedangkan gw nunggu di mobil. Hampir satu setengah jam gw belain. Habis mau pulang males.

Ketika mereka keluar, dari jauh gw bisa melihat wajah mereka yang berkeringat. Lengan dan punggung yang terbuka berkilau lantaran lapisan peluh. Cantik dan seksi banget. Apalagi AE.

AE sesekali menyeka keringat dengan handuknya. Ketiaknya yang basah itu seolah mengundang gw untuk mengendusi aromanya. Mereka makin mendekat dan bau tubuh alami mereka pun mulai menyergap hidung gw. Shit!! Horny banget, Den!

"Frans, kita balik rumah dulu, baru siangnya kamu antar AE ya," pinta Ita.

Yeah, apa aja deh buat kalian.

Sesampai di rumah, siang itu, gw segera mencari akal untuk bisa nyium kedua ketiak lembab wanita ini. Sementara mereka berdua asyik bercerita tentang politik negeri ini.

Pakaian senam mereka yang terbuka membuat aku berusaha menahan diri sampai pening. Tiba-tiba AE menegur gw yang dari tadi pura-pura nonton TV (padahal pikiran terus melayang ke ketiak-ketiak putih itu).

“Frans, mau mandi nih,” ujar AE. “Pinjam handuk bersih dong, gw lupa bawa tadi.”

“Pinjem ama Ita aja, gw kagak ada.”

“Yeee... maksudnya kamu ambilin handuk di kamarku,” teriak Ita di kejauhan.

Males juga gw denger Ita nyuruh-nyuruh gitu. Awas loe! Handuk Ita pun gw serahkan ke AE di dekat kamar mandi. Pas gw balik, gw lihat Ita berbaring di sofa. Dia tertidur dengan kedua tangan terangkat di samping kepalanya. Kesempatan! Pelan-pelan gw menghampirinya. Ita kayaknya ga sadar kalo gw udah di dekatnya. Pesawat siap terbang rendah.

Dan... ketek lembab itu pun terhidang di depan hidung gw. Keringat alaminya berbau seperti garam kadaluarsa. Gw mengendusi, bergantian kiri-kanan.

Oh, Ittaaaah... nikmatnya bau tubuh loe....

Lalu gw mengendap-endap menjauhi Ita. Gw berjalan melewati kamar mandi. Aneh, tidak ada suara gemericik air. Eh, tiba-tiba pintu terbuka. AE berlari keluar sambil menjerit-jerit kaget. Ita yang pulas di sofa jadi terbangun deh. Usut punya usut, AE menjerit-jerit karena ada kecoak. Dia geli banget ama kecoak. Gw ditabraknya sampai terjengkang. AE juga terjengkang. Akibatnya tangannya agak terkilir lantaran menahan beban tubuhnya.

AE masih memakai baju atasan senamnya, tapi bawahannya pakai handuk. Untung handuknya ga terlepas, kalau terlepas... hmm. Tuh cewek sebenarnya belum mandi. Menurut pengakuannya, dia lama di kamar mandi karena gantungan di sana terlepas dan dia mencoba membenahinya, sampai tragedi kecoa tadi menimpa.

Ita minta gw mengurut tangan AE, karena dia ga tahu tekniknya. Kesempatan, ini! Gw minta AE baring. Tangannya yang halus gw pegang. Lalu mulai gw urut dia dari pergelangan tangan ke siku selama lima menitan. Kadang dia meringis, kadang keenakan.

Tak membuang waktu, gw segera permisi ke dia untuk mengurutnya dari pangkal lengan alias ketiaknya. Sebab, itu saluran saraf yang terjepit (inilah akal bulus terbaik gw sampai saat ini). Eh, dia mengiyakan. Ga pake lama, jari-jari gw udah menjarah lembah ketiaknya yang keringetan. Efeknya bisa ditebak, AE kegelian.

“Tahan dong! Kamu mau sembuh ga,” ancam gw. Ngomong-ngomong, jemari gw udah basah oleh peluhnya. Gw ga sabar pingin nyium jari-jari itu, tapi mata AE masih melek. Lagian, Ita yang duduk di samping gw mengawasi proses pemijatan itu kayak mata elang.

Ga kurang akal, gw suruh aja Ita ambil Counterpain. Nah, saat Ita amblas, gw minta AE telungkup, biar posisinya sama-sama enak. Inilah momen dimana gw bebas nyium jari-jari gw yang udah merambahi ketiak cewek cakep ini. Ahhhh.... aroma asem bercampur keringat seperti buah sawo yang matang sungguh merangsang gw.

“Frans, ngapain brenti?? Loe jangan macem-macem ya,” gertaknya sambil benahi handuknya yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Pegel tau!” balas gw pura-pura marah. Aksi menikmati ketiak AE berhenti pas Ita datang. Setelah itu, ga ada peristiwa menarik untuk di-share.

Den, ini cerita gw yang sesungguhnya. Boleh percaya boleh ga. Kalo loe nonton TV dan lihat mereka berdua, inget: Ketek mereka berambut halus, kecut, tapi ga menyengat. Kayak bau garam yang udah lama tersimpan gitu deh.

PS: Pengakuan ini kiriman dari Frans. Dan foto di atas adalah properti HSP, fungsinya cuma sebagai ilustrasi.