Sunday, March 27, 2016

Nadia, ketek bule pertama gw

- Roni Asmara (nama samaran)

Namanya Nadia. Nama asli. Orang Rusia. Pirang, seksi, lumayan cantik lah. Kita ketemu di Beijing waktu itu. Ketemu di lobi sebuah hostel. Keliatannya dia juga tipikal turis backpacker kayak gw. Sering ketemu dan ngobrol, lama-lama kita akrab. Suatu hari, terjadi percakapan ajaib.

Pagi-pagi bener, sekitar jam 6, di bench depan hostel. Gw yang santai-santai lihat pemandangan sambil makan roti, lihat dia keluar dari pintu. Nadia mengenakan kaos pink formal dengan krah tinggi, lengan panjang. Rok hitam selutut. Dan sepatu berhak rendah. Di tangannya, tersampir blazer dan tas tangan. Gw sapa dan ajak duduk sebentar.

Nadia pun duduk di sebelah kiri gw. Terjadilah percakapan. Seperti biasa, gw dengan dialek English Indonesia, dia dengan dialek English Rusia. Sama-sama English yang cacat. Tapi kita bisa komunikasi lancar. Seingat gw, percakapannya gini. Biar praktis, gw tulis dalam bahasa Indonesia aja, oke?

"Pagi sekali kamu bangun, Nadia?" gw buka percakapan.

"Aku ngejar kereta jam 7.30."

"Kerja?"

"Meeting dengan bos lokal."

"Kupikir kamu ke sini liburan, kayak aku. Eh, roti?" aku menawarinya.

Si blonde menolak. "Udah sarapan."

"Sungguh? Sepagi ini udah sarapan?"

"Sudah kubilang, aku harus mengejar kereta. Jadi, semua harus siap pagi-pagi benar."

"Udah mandi? Ga kedinginan?"

Nadia terdiam. Cuman senyum.

"Soalnya, air panas di kamarku ga seberapa panas. Gimana di kamarmu?"

"Sama," jawab Nadia. "Kemarin, aku udah protes ke stafnya. Tapi... yah..."

"Jadi?"

"Aku ga mandi. Lagipula, ini menjelang musim gugur. Aku ga banyak berkeringat."

"Sebentar. Kamu mau ketemu bos, tapi belum mandi?"

Nadia ketawa. "So what, Roni? Kamu orang tropis, di negaramu harus mandi 2 kali. Di sini beda."

"Tapi, aku cuman ga bisa bayangin baunya. Setelah ini, kamu berjalan ke stasiun, lalu berdesak-desakan di kereta. Maksudku..."

"Udara sedingin ini? No way. Ini penghujung musim semi, come on!"

Gw diem sebentar. Terus, tanpa ragu, tanpa deg-degan, gw tanya spontan, "Boleh ga?"

"Apa?"

"Eh, ng... tes..." Gw ga jelasin maksud spesifik gw. Tapi gw langsung miring mendekati bahunya. Mejamin mata. Dan tarik napas pelan. Nadia pasti tau kalo gw lagi ngendus dia. Dan dia diem aja. "Hmmm... emang ga bau. Aneh. Kamu terakhir mandi kapan, Nadia?"

"Kemarin, sepertinya.... hei! Hahaha, apa yang kamu lakukan?"

Gw angkat tangannya. Lalu mengendus ketiak kanannya. Tentu saja, ga bisa lihat atau kena kulit ketiaknya langsung, soalnya bagian itu ketutup oleh kaos lengan panjangnya. Tapi kainnya tidak terlalu tebal. Jadi, rasanya masih bisa gw cium aroma khas ketiaknya.

Inilah untuk pertama kalinya gw nyium ketiak bule. Meskipun ga langsung kulitnya. Sepintas ga bau. Tapi begitu gw hirup dengan kenceng, baru kerasa aromanya. Emang ga bisa dibilang bau. Tapi gw familier banget dengan aroma ini. Ini emang bau ketek! Artinya, Nadia ga pake parfum, bedak atau deo di balik kaosnya ini.

"Roni!" jeritnya, tapi suaranya dikecilkan biar ga ada yang denger.

Gw kira Nadia marah. Tapi dia malah masang ekspresi lucu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di pelipisnya. "Kamu udah gila?"

Gw ketawa. Dia juga ketawa.

Terus dia pamit.

Gw lega, besok-besoknya, kita masih saling sapa dan ngobrol. Tanpa mengingat-ingat peristiwa yang luar biasa itu. Peristiwa yang menambah portofolio gw di dunia perketekan cewek.

Gw langsung sharing di Herpits dong, biar pada sirik. Bule, Gan, bule! Emang loe pernah?

Random Gallery: Miss Vee