Pitlit

Pernah dengar istilah ini? Pitlit alias armpit literature adalah sastra aliran baru. Pitlit bisa berupa cerpen, cerber, novelet atau novel yang bertemakan kehidupan fetish ketiak dengan tujuan hiburan. So pasti, pembacanya tersegmen untuk para pengagum ketiak saja. Di Herpits, segmen itu malah lebih terkerucut lagi, yakni spesifik pada pengagum ketiak wanita.

Loe cari contoh pitlit? Ya seperti yang ada di blog ini. Gw punya beberapa cerita panjang, loe boleh menyebutnya novel, bergenre pitlit.

Sampai detik ini, gw memutuskan pitlit itu digratiskan saja di sini. Silakan baca sepuasnya! Tapi ada sedikit iklan di dalamnya, sehingga butuh beberapa kali klik sebelum loe bisa menikmati setiap babnya. Buat yang belum tahu, cara mengakses pitlit ini begini:
  1. Baca aja seperti postingan blog biasa. Cuman, di akhir bab, akan ada link untuk menuju bab berikutnya.
  2. Klik link itu. Akan muncul halaman adf.ly (iklan).
  3. Tunggu beberapa saat (biasanya 5 detik), terus klik tombol SKIP ADS yang muncul. Kadang, perlu beberapa kali klik sebelum tulisan SKIP ADS muncul. Dalam hal ini, salahkan pihak Adf.ly-nya, karena gw setting-nya selalu cukup sekali klik, bukannya berlapis-lapis begitu.
  4. Udah! Loe udah ada di bab baru pitlit ini.
  5. Begitu seterusnya.
Loe ga perlu bayar sepeser pun! Dan ntar, kalo respon pembaca bagus, dalam arti ga gw temuin kopas pitlit ini di blog/web/medsos/forum lain, program pitlit gratis ini bakal gw terusin. Akan ada judul-judul baru yang terbit secara berkala. Tapi kalo yang terjadi adalah sebaliknya, ya sudah, selesai. Pitlit-pitlit berikutnya bakal gw inggrisin dan jual ke pasar luar lewat Google Playstore (rencana awal gw).

Sepakat, ya? Ayo salaman dulu. Dengan mengklik link pitlit di bawah ini, berarti loe setuju dan berjanji bahwa loe:
  1. Udah berumur di atas 17 tahun. Karena dalam pitlit ini, ada sepotong-dua potong adegan kekerasan dan dewasa (tapi tetap bukan pornografi).
  2. Ga akan mengopi, mendonlot atau mengambil apapun dari sini. Plis, bikin novel itu ga gampang, hargai dong. Biarlah semua cerita tetap ada di tempatnya semula.
  3. Ga akan meniru-niru adegan apapun dalam pitlit ini, karena loe paham sepenuhnya bahwa semua ini fiksi doang. Kalo nekat, segala risikonya loe tanggung sendiri.
Ga bisa menjanjikan ketiga poin itu? Silakan pergi dari sini. Sanggup berjanji? Lanjuuuut…

Pitlit #1: Ospek19Jam

Pitlit #1: Ospek19Jam
Pitlit edisi perdana ini terdiri dari 35 bab. Bercerita tentang 19 jam hidup Ni Luh Dinaralana alias Dinar ketika mengikuti Ospek di kampus barunya. Sungguh 19 jam yang melelahkan dan penuh teror bagi gadis 18 tahun ini.

Terik matahari, hukuman yang menyengsarakan, memalukan, penuh ketegangan, belum lagi faktor hantu yang konon menunggu gedung Jurusan Tata Boga kala malam, membuat gadis Bali itu sedikit-sedikit berkeringat. Sampai-sampai, salah seorang dosen Gastronomi di sana mengolok-olok ketiak Dinar seperti bahan masakan saja: cuka dan bawang.

Apesnya lagi, pemilik suara emas ini lupa mencukur ketiaknya sebelum berangkat Ospek. Kealpaan ini membuatnya semakin menjadi bulan-bulanan, baik oleh seniornya, dosennya, maupun teman-temannya sesama mahasiswa baru.

Seperti apa kisah Dinar selengkapnya? Bagaimana keadaan ketiak cewek manis ini hingga akhir Ospek? Langsung aja meluncur ke TKP, Gan!

Pitlit #2: Band Jantung Rekreasi

Setting pitlit ini adalah 6 bulan setelah Ni Luh Dinaralana diospek. Dinar akhirnya bersahabat dengan beberapa mantan ‘penyiksanya’. Bahkan akhirnya dia direkrut menjadi salah satu vokalis di band Jantung, band kafe yang digawangi oleh 7 orang eks panitia Ospeknya waktu itu.

Di sini, diceritakan Dinar merencanakan pembalasan terhadap Brigita Soetedjo. Brigita adalah seniornya di kampus (yang paling rese saat Ospek), sekaligus di band Jantung. Brigita dan Dinar sebenarnya sudah berkawan baik. Tidak ada dendam.

Dinar sudah memaafkan Brigita, karena, “Semua itu sandiwara doang, Din. Bukan sungguhan,” terang Brigita di akhir acara Ospek. Tapi Dinar juga akan mengatakan hal yang sama setelah mengerjai gadis cantik keturunan Tionghoa itu nanti. Siapa sangka, cewek sekalem Dinar bisa ‘sadis’ juga. Darah dibayar darah, jadi ketiak pun dibayar ketiak!

Tapi sori, pitlit kedua ini belum gw tulis. Baru kelar idenya doang. Gw juga mau tinjau dulu nasib pitlit yang pertama, oke?

Terakhir, semoga loe menikmati pitlit-pitlit ini. Kalo mau kasih feedback, wah, gw terima kasih banget! Laporan pandangan mata, kritik, saran dan usul ide cerita bisa loe kirim lewat form yang ada di bagian bawah blog ini. Mau ikutan nulis pitlit juga boleh…